Beberapa Kesalahan dalam Membaca Surah Al-Fatihah



Saat masih kecil dan pertama kali belajar mengaji “huruf Arab sambung”, materi pertama yang diajarkan ustadz kepadaku waktu itu adalah surah Al-Fatihah dan bacaan tasyahud/tahiyyat.

Hari pertama, berpuluh-puluh kali sang ustadz meluruskan bacaanku yang memang sangat amburadul. Hari kedua, masih belum berubah. Berkali-kali beliau harus meluruskan kembali bacaanku. Alhamdulillah, pada hari ketiga bacaanku sudah agak baik. Karena itulah aku pikir pada hari keempat materi ngajinya akan dinaikkan, entah memulai surah Al-Baqarah atau surah lain. Ternyata dugaanku salah. Aku masih harus mengulang dua materi tersebut (al-Fatihah dan bacaan tasyahud) selama dua minggu.

Jengkel, mangkel, marah, dan kesal bercampur jadi satu.

“Kalau bisa dibuat mudah hanya dalam tiga hari, mengapa harus menunggu sampai dua minggu?!” pikirku, kesal.

Aku pulang dari pesantren sang ustadz sambil ngedumel. Marah dan kesal, sekaligus juga iri dengan teman-teman lain yang ngajinya sudah sampai jauh. Ada yang sudah dapat sekian juz, ada yang sudah masuk materi menghafal juz 30, dan lain-lain.

Esoknya aku sampaikan keluhanku kepada kawan-kawan lain yang nyantri di pesantren itu.

“Kang, ustadznya kok bikin mangkel aku sih! Masak untuk belajar membaca al-Fatihah dan tasyahud saja harus dua minggu. Jangan-jangan beliau sengaja memperlambat ngajiku karena beliau tidak suka kepadaku?!”

Kang-kang (kawan-kawan senior) santri yang mendengar keluhanku itu sontak tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggemuruh, menambah kekesalanku kian mengerat.

“Kenapa ketawa, Kang? Kalian ngejek aku, ya?!”

Memahami kesalahpahamanku tentang tawa mereka, buru-buru mereka menjelaskan. “Sampeyan masih enak, cuma dua minggu. Dulu kami mengaji dua materi itu hampir dua bulan lamanya. Awalnya kami juga jengah dan kesal kenapa kami tidak dinaikkan ke materi yang lain. Tapi, akhirnya kami tahu bahwa Ustadz sengaja mengulang-ulang dua materi itu karena memang dua materi itulah yang menjadi pilar atau rukunnya ibadah shalat, selain takbiratul ihram, bacaan salam, dan gerakan-gerakan yang lain. Karena itulah, sebagai rukun shalat, bacaan Fatihah dan tasyahud kita harus benar.”

Mendapat penjelasan itu, seketika aku menyesal telah ber-su’uzhan kepada Ustadz. Juga menyesal atas kekesalan, kemarahan, dan kejengkelanku selama itu. Sejak itu terbukalah pikiranku bahwa belajar membaca surah al-Fatihah harus sungguh-sungguh dan benar karena surah itu sebagai penentu sah tidaknya shalat kita.

Di antara yang pernah diajarkan ustadz saya adalah adanya beberapa lafal atau kata yang apabila sedikit saja berubah membacanya maka akan berubah pula secara fatal maknanya. Berikut ini uraiannya.


***

 
AL-FAATIHAH

(PEMBUKAAN)


[1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

~ Penambahan satu titik pada huruf ha’ di kata yang terakhir (ar-rohiim) menjadi (ar-rokhiim) ternyata mengubah arti.
·        رَحِيْم = penyayang

·        رَخِيْم = merdu


[2] Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

~ Perubahan huruk ha’ pada kata yang pertama (al-hamdu) menjadi kaf (al-kamdu) juga mengakibatkan perubahan makna.
·        اَلْحَمْدُ = pujian/segala puji

·        اَلْكَمْدُ = penderitaan, kesedihan yang sangat, kesuraman


[3] Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

~ Penambahan satu titik pada huruf ha’ di kata yang terakhir (ar-rohiim) menjadi (ar-rokhiim), sebagaimana telah disebutkan dalam ayat ke-1, ternyata mengubah arti.
·        رَحِيْم = penyayang

·        رَخِيْم = merdu


[4] Yang menguasai Hari Pembalasan.


~ Lafal maaliki boleh dibaca panjang (maaliki) yang berarti pemilik atau yang menguasai, dan boleh juga dibaca pendek (maliki) yang berarti Raja.


[5] Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

~ Penghilangan tasydid atau syiddah pada lafal iyyaaka menjadi iyaaka ternyata mengakibatkan perubahan makna yang sangat fatal.
·        اِيَّاكَ  = hanya Engkau
Iyyaaka na’budu = hanya Engkau yang kami sembah.
Wa iyyaaka nasta’iin = dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

·        اِيَاكَ  = cahaya matahari-Mu
Iyaaka na’budu = kepada cahaya matahari-Mu kami menyembah.

Wa iyaaka nasta’iin = dan kepada cahaya matahari-Mu kami meminta pertolongan.


[6] Tunjukilah kami jalan yang lurus,


[7] (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Tag : Shalat
Comments
40 Comments
40 Komentar untuk "Beberapa Kesalahan dalam Membaca Surah Al-Fatihah"

Memang, kalo salah sedikit bisa mengubah arti. Tapi, kayaknya sekarang jarang ada guru ngaji yang se-detail itu.

ketika saya di merantau di Jawa (Malang) saya mendengar banyak sekali pengucapan lafal, terutama Al-Fatihah yang sangat berbeda. Ini bahkan dilakukan oleh imam sholat jum'at dan sholat jama'ah di masjid, dan ironisnya mereka sudah menyandang gelar ustad atau Pak Kyai. Pertanyaan saya, apakah sah sholat kita mengikuti imam yang salah dalam membaca Al-Fatihah? Mohon pencerahan

Di pengajian mingguan yang saya ikuti juga selalu diawali dengan mengulang surat Al Fatihah sampai bacaan kami benar-benar pas. Sempat muncul rasa bosan, tapi setelah sang ustadz menjelaskan betapa pentingnya bacaan Al Fatihah yang baik dan benar dalam sholat, maka kami tak lagi bertanya dan bahkan kami mengakui bahwa bacaan Al Fatihah selama ini perlu banyak yang dibenahi.

pada dasarnya, tajwid itu memang sangat penting karena dapat merubah arti dan makna

*kayanya tadi udah komen, koq ga ada ya?? kl ada tolong dibuang yang ini ya pak :D* salah baca 1 huruf memang bisa jadi artinya beda, tapi di ayat ke 5 ini artinya melenceng banget ya, serem euy masa nyembah Matahari..

saya pernah denger ada orang yang menyebut 'Al Fatihah' dgn 'Al Fatekah', itu kenapa ya?

Masya ALLAH ustd...kelihatnnya sepele tapi dampak nya fatal....memang segala sesuatu itu harus punya ilmu nya ...biar gk cmn ALLAHUMMA ikut tok..isiiin maleh kaleh ustd te......nyuwun sewu....

ternyata beda satu huruf, maknanya bisa menjadi lain ya mas.

terimakasih infonya mas, memang al fatihah merupakan bacaan yang pasti kita baca di tiap shalat ya, jadi pengucapannya pun harus di perhatikan ya.

dua minggu itu menurut saya cepat, bahkan ada yang sampai 6 bulan untuk belajar pengucapan makhoroj 1 huruf saja. Informasi ini sangat berharga, terimakasih.

ak aja benerin bacaan al fatihah sama guruku alhamdullilah satu bulan belum lulus, etah berapa minggu dulu belajar-nya aida lupa yang jelas lama banget . . . .

ehm emang bener gan, klo cara baca yang bener emag susah. dulu aku juga sampe dua bulan tu ngaji itu itu aja, tapi ya jadi ngerti gimana baca dan kharokatnya serta maghorijul hurup yang benar.

bener juga bang. harusnya itu yang perlu di tatar dari awal ya.

benar sekali, betapa penting memperhatikan hal ini ya...

bacaan yang diulang-ulang ini memang sangat perlu senantiasa kita ulang-ulang, terus dan terus...

Millati Indah @ Itulah pentingnya belajar / mengaji ya, Mbak. Semoga kita bisa terus belajar, mengaji, dan mengkaji al-qur'an ya.

Lalu Abdul Aziz @ Jika imam batal atau tidak sah maka makmum yang mengetahui ketidaksahannya namun dia tetap mengikuti imam tsb, tentunya si makmum jadi ikutan tidak sah, Mas. Namun, ttg kesalahan membaca Fatihah sbgmna pertanyaan Mas Lalu Abdul Aziz, tentu ada perincian tingkat kesalahannya dg konsekuensinya masing2. Ada kesalahan yg ditoleransi, dan ada pula yg tdk bisa ditoleransi.

Abi Sabila @ Benar Abi. Dulu saya pada awalnya juga merasa bosan dan "marah" karena berlama2 belajar al-Fatihah. Tapi setelah menyadari manfaat mempelajarinya, hmm... jadi malu sndiri skrg. hehe

Destur Purnama Jati @ Benar, Mas. Itu penting banget buat kita.

NF @ Iya, ayat ke-5 itu yg sangat amat perlu kita perhatikan cara membacanya agar benar. Tth Al-Fatekah, itu karena keceplosannya lidah orang Indonesia (khususnya jawa), Mbak. Bahkan saking JAWA-nya mereka suka nyebut F jadi P: al-patekah. Pdhl yg benar adlh Al-Fatihah yg berarti pembukaan, muqadimah, ato preambule.

mahbub ikhsan @ leres kangmas. Segala sesuatu yg qt lakukan memang harus berdasarkn ilmu. bahkn mau jd sopir, jd petani, jd arsitek, dll ada ilmunya sndiri2. leres mekaten toh kangmas? ^_^

Mami Zidane @ Benar, Mami, beda satu huruf bisa jadi maknanya akan berubah. Sama halnya bahasa Indonesia, ayam vs ayan, dan vs ban, lempar vs lemper, dll.

Nurin Ainistikmalia @ Iya, Mbak, benar. Tidak sedikit teman saya yang sampai berbulan2. Alhamdulillah, saya diberi waktu 2 minggu.

Sinna Saidah Az-Zahra @ Kalau anak2 sekarang kira2 gimana ya? Juga sekian minggu atau bahkan bulan, atau cuma sehari saja ya?

cerita anak kost @ Mungkin waktu itu kita bosen dan rada2 jengkel ya, Mas, tapi sekarang barulah ngrasakan manfaat dan keuntungan mempelajarinya dlm thuluz-zaman (waktu yg lama).

peduli alamku @ Memang sebaiknya dan idealnya harus diajarkan sedari dini ya Bang.

Akhmad Muhaimin Azzet @ Sepakat kangmas. Karena itulah pantes banget surah ini dijuluki as-sab'ul matsani ya Mas. Idealnya tdk hanya diulang dlm shalat, tetapi jg diulang terus dlm mempelajari, mengaji, dan mengkajinya ya mas.

wah keren Om...
Betul itu, kebanyakan orang juga menyepelekan hal yang kelihatannya kecil seperti ini, padahal hal2 yang kelihatannya kecil ini dapat berakhibat sangat fatal...
Makasih Om, Penjelasannya

Eko Muryanto @ siPPP bang Eko. Moga bisa ditularkan ilmunya ke santri2 TPA-nya bang Eko.

Izin share ya, kesalahan bisa mengubah arti ;)

Yunda Hamasah @ Silakan, Yunda, saya justru bersenang hati jika Yunda mau membagikan setitik ilmu ini kpd yg lain.

thanks gan untuk ilmun nya

info yang sangat bermanfaat, thanks gan

Apakah makmun bisa aminkan jika imam membaca iyaaka

Orang yang mengetahui dan memahami kesalahan fatal itu tentu lebih laik tidak bermakmum kepada imam tersebut. Mereka yang tidak mengetahuinya tentu sah-sah saja bermakmum dan membaca aamiin.

makasih untuk ilmunya, bisa untuk dipelajari
semoga bermanfaat

Iya, masih ada. dan Banyak juga

Sah, karena sudah terlanjur dan imam tidak boleh dilawan. Tapi untuk next, jangan jadi makmum beliau lagi.

Jawaban sudah saya berikan di kolom komentar di bawah. Silakan dibaca ulang.

Back To Top